Kamis, 10 Januari 2013

auditing 1



Pengertian Auditing
     Ada beberapa penulis yang memberikan pengertian audit, diantaranya :
     a.  Mulyadi “ Auditing adalah suatu proses sistematik untuk memperoleh dan  
          mengevaluasi bukti secara objektif mengenai pernyataan-pernyataan  
          tentang kegiatan dan kejadian ekonomi dengan tujuan untuk menetapkan
          tingkat kesesuaian antara penyataan -pernyataan tersebut dengan
          kreteria yang telah ditetapkan, serta penyampaian hasil-hasilnya kepada
          pemakai yang bekepentingan“.
     b. Sukrisno Agoes “ Auditing adalah suatu pemeriksaan yang dilakukan pihak  
         yang indepenen terhadap laporan kuangan yang telah disusun oleh 
         pihakmanajemen, beserta catatan-catatan pembukuan, beserta catatan-
         catatan pembukuan dan bukti-bukti pendukungnya, dengan tujuan untuk
         dapat memberikan pendapat mengenai kewajaran laporan keuangan
         tersebut ”.

Dari pengertian tersebut diatas, maka dapat disimpulkan hal-hal sbb :
1.   Yang diperiksa adalah Financial Statement
      a. Balance sheet.
      b. Income statement.
      c. Equity of changes statement)
      d. Cahs flow statement.
      e. Notes to the financial statement
 2.   Pemeriksaan dilakukan secara kritis dan sistematis.
3.   Pemeriksaan dilakukan oleh pihak yang independen.
4.   Pemeriksanaan dilakukan oleh akuntan (accountant) untuk
      memberikan pendapat kewajaran atas laporan keuangan yang
      diperiksa.
Tahapan Audit yang dilakukan oleh Pihak Auditor
1.  KAP dihubungi oleh  calon client yang membutuhkan jasa Audit.
2.  KAP membuat perjanjian dengan calon client untuk membicarakan hal  
     hal sbb :
     a.  Alasan perusahaan untuk mengaudit laporan keuangannya.
     b.  Apakah perusahaan telah di Audit oleh KAP lain.
     c.  Untuk mengetahui jenis usaha dan gambaran umum perusahaan.
     d.  Untuk mengetahui akuntansi perusahaan yang data akuntansinya 
          diproses secara manual atau dengan bantuan komputer
          (menggunakan software).
     e.  Bagaimana sistem penyimpanan bukti-bukti pembukuan                           
          perusahaan.
3.  KAP mengajukan surat penawaran (audit porposal), yang berisi :
         a.  Jenis jasa yang diberikan.
         b.  Besarnya audit fee
         c.  Waktu dimulai pemeriksaan dan waktu penyerahan hasil audit.

JENIS-JENIS AUDIT
. Ditinjau dari luasnya Pemeriksaaan :
   a. General Audit
       Pemeriksaan yang dilakukan oleh KAP yang Independen dengan
       tujuan untuk memberikan pendapat mengenai kewajaran
       laporan keuangan secara keseluruhan. 
b. Special audit
    Pemeriksaan yang dilakukan oleh KAP yang Independen dengan
    tujuan untuk memberikan pendapat mengenai wajaran laporan
    keuangan tidak secara keseluruhan. 
2.  Ditinjau dari jenis pemeriksaan audit
a.  Management Audit
     Suatu pemeriksaan terhadap kegiatan operasi suatu perusahaan, 
     termasuk kebijakan akuntansi, operasional yang telah ditentukan
     oleh pihak manajemen untuk mengetahui apakah kebijakan
     operasi tersebut sudah dilakukan secara efektif, effisien dan
     ekonomis. 
Prosedur Audit yang dilakukan mencakup :
v  Analytical review.
v  Evaluasi terhadap Management control system.
v  Complience test.
b.  Complience audit (Pemeriksaan Ketaatan)
v       Pemeriksaan yang dilakukan untuk mengetahui apakah perusahaan
v       sudah mentaati peraturan-peraturan, kebijakan-kebijakan yang
v       berlaku, baik yang ditentukan oleh pihak intern, maupun pihak
v       ekstern perusahaan
c.  Internal Audit
v       Pemeriksaan yang dilakukan oleh internal audit perusahaan, apabila
v       terhadap laporan keuangan, maupun catatan akuntansi perusahaan,
v       serta terhadap kebijakan manajamen yang telah ditentukan
d. Computer Audit
v      Pemeriksaan yang dilakukan oleh KAP terhadap perusahaan yang
v      memproses data akuntansinya dengan menggunakan EDP.  Metode
v      yang dapat digunakan adalah :       

PROFESI AUDITOR
Seorang Akuntan yang memiliki nomor register, bisa memilih profesi
sebagai berikut :
1. Akuntan Publik (Public Accountant)    
2. Akuntan internal (Internal Auditor)    
3. Akuntan Keuangan ( Financial Accountant)
4. Cost Accountan    
5. Akuntan Pajak (Tax Accountant)    
6. Akuntan Pendidik (Lecturer)    

Ruang Lingkup
      Pada akhir pemeriksaan yang dilakukan oleh Auditor dalam General
       Audit
       KAP memberikan hasil pemeriksaan yang terdiri dari :
      a.  Lembar opini (AuditOpini)
           Lembar opnini merupakan tanggung jawab Akuntan Publik,   
           dimana Akuntan Publik akan memberikan pendapat terhadap
           kewajaran laporan keuangan yang disusun oleh pihak manajemen.
       b. Laporan Keuangan (Financial Statement) 
           Laporan keuangan yang disampaikan dari hasil pemeriksaan yang 
           dilakukan oleh KAP terdiri dari : 
v     Balance sheet
v  Income statement.
v  Equity of changes statement)
v  Cahs flow statement.
v  Catatan atas laporan keuangan, yang berisi :
ü  Bagian umum, menjelaskan latar belakang perusahaan.
ü  Kebijakan akuntansi yang digunakan perusahaan.
ü  Penjelasan atas pos-pos Neraca dan Laba – Rugi.
JENIS-JENIS PENDAPAT AUDITOR
.  Pendapat wajar tanpa pengecualian (unqualified opinion).
2.  Pendapat wajar tanpa pengecualian dengan bahasa penjelasan yang ditambahkan dalam laporan audit standar (unqualified opinion with explanatory language).
3.  Pendapat wajar dengan pengecualian (qualified opinion).
4.  Pendapat tidak wajar (adverse opinion).
5.  Tidak memberikan pendapat (disclaimer of opinion).

Qualified Opinion
Pendapat ini diberikan jika :
1.  Tidak adanya bukti kopeten yang cukup atau adanya pembatasan terhadap
     lingkup audit.
2.   Auditor yakin atas dasar hasil pemeriksaan yang telah dilakukan terdapat
      penyimpangan terhadap prinsip akuntansi yang berlaku umum yang
      berdampak material.
 Disclaimer of Opinion
n  Pendapat ini diberikan jika Auditor dibatasi dalam lingkup auditnya.  Tidak dapat melaksanakan audit secara cukup, dan terdapat penyimpangan yang cukup material.
Adverse Opinion
Suatu Pendapat tidak wajar diberikan, jika laporan keuangan yang
disajikan secara keseluruhan tidak secara wajar.  Auditor harus
menjelaskan dalam paragraf terpisah sebelum paragraf pendapat
dalam laporannya.  Hal-hal yang harus dijelaskan adalah sbb :
1.  Semua alasan yang mendukung pendapat tidak wajar.
2.  Dampak utama yang menyebabkan pemberian pendapat tidak
     wajar terhadap laporan keuangan.
3.  Jika dampak yang ditimbulkan tidak dapat ditentukan secara
     beralasan.

Tujuan Audit     
Tujuan Pemeriksaan umum terhadap laporan keuangan oleh auditor Independen adalah untuk menyatakan pendapat/opini mengenai kewajiban dalam penyajian posisi keuangan, hasil operasi, dan perubahan posisi keuangan yang sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku Umum (SAK)
Langkah-langkah dalam menyusun Tujuan Audit adalah mengetahui :
          Laporan Keuangan ;
                Tanggung jawab Manajemen adalah u/ menentukan kebijakan yang sehat, menjalankan struktur pengendalian intern yang baik, dan mencantumkan angka-angka yang dapat dipertanggung jawabkan dalam laporan keuangan.
                Laporan keuangan yang dihasilkan oleh manajemen ? NERACA, LAPORAN LABA-RUGI, LAPORAN PERUBAHAN MODAL, LAPORAN ARUS KAS.
          Siklus Laporan Keuangan
                Karena perkiraan selalu berhubungan dengan perkiraan lainnya maka untuk memudahkan pemeriksaan perlu diketahui siklus laporan keuangan perusahaan yang diperiksa. Misalnya untuk memeriksa Perkiraan penjualan, retur penjualan, saldo piutang, serta kas sebaiknya digabung karena perkiraan tersebut merupakan bagian dari siklus penjualan dan penagihan. (lihat lampiran1)
                Dari Laporan Keuangan , amati komponen (perkiraan)  yang mempengaruhinya dan hubungkan dengan komponen (perkiraan) lainnya .(lihat lampiran 2)
          Pernyataan (Asersi) manajemen mengenai Komponen-komponen Laporan Keuangan
                Bagaimana manajemen memberikan pernyataan terhadap Lap. Keuangan yang merupakan tanggung jawabnya. (Terkait dengan cara mencatat dan mengungkapkan lap. Keuangan yang disesuaikan dengan SAK)
Pernyataan Manajemen secara umum ada 5 yaitu :
Keberadaan / Eksistensi / Keterjadian / Occurrence
                è Aktiva, Hutang & Modal yang tercantum dalam Neraca benar-benar ada sampai dengan periode tersebut.
                è Penjualan dalam Lap. Laba-Rugi menujukkan telah adanya  pertukaran barang/jasa pada periode tersebut.
Kelengkapan
                è Semua transaksi dalam periode yang bersangkutan telah dicatat.
Hak dan Kewajiban
                è Nilai akhiva dalam Neraca adalah kekayaan yang benar-benar hak perusahaan s/d periode tersebut. Sedangkan Hutang & Modal adalah Kewajiban perusahaan s/d periode         tersebut.
Penilaian dan Alokasi
                è Aktiva, Hutang, Modal , Pendapatan , dan Biaya telah dimasukkan dalam Lap. Keuangan dengan angka-angka yang sesuai (perhitungan benar)
Penyajian dan pengungkapan
                è Komponen-komponen dalam Lap. Keuangan telah diklasifikasikan, dijelaskan, dan diungkapkan dengan benar. Misal : Komputer dimasukkan ke dalam Aktiva tetap karena umurnya ekonomisnya lebih dari satu tahun.

TUJUAN UMUM AUDIT ATAS KOMPONEN-KOMPONEN LAPORAN KEUANGAN
Asersi Manajemen
Tujuan Umum Audit
a. Keberadaan
Aktiva dan Kewajiban entitas ada pada tgl tertentu dan transaksi pendapatan dan biaya terjadi dalam periode tertentu.
b. Kelengkapan
Semua transaksi dan akun yang seharusnya telah disajikan dalam laporan keuangan
c. Hak dan Kewajiban
Aktiva adalah hak entitas dan hutang adalah kewajiban entitas pada tanggal tertentu.
d. Penilaian atau alokasi
Komponen aktiva, kewajiban, pendapatan , dan biaya telah disajikan dalam laporan keuangan pada jumlah yang semestinya.
e. Penyajian dan pengungkapan
Komponen tertentu laporan keuangan telah digolongkan, digambarkan , dan diungkapkan secara semestinya.

Bagaimana Tujuan Audit dapat Dicapai ?
          Pada saat auditor memutuskan tujuan spesifik audit untuk setiap komponen laporan keuangan, proses pengumpulan bahan bukti dapat dimulai.
          Proses audit adalah metodologi penyelenggaraan audit yang jelas untuk membantu auditor dalam mengumpulkan bahan bukti pendukung yang kompeten. Ada empat tahap dalam proses audit :



TUJUAN SPESIFIK ATAS KOMPONEN-KOMPONEN LAPORAN KEUANGAN (Contoh : Persediaan Barang & dihubungkan dengan asersi manajemen)

ASERSI MANAJEMEN
TUJUAN UMUM AUDIT
TUJUAN SPESIFIK AUDIT YANG DITERAPKAN PADA
PERSEDIAAN BARANG
Ø  Keberadaan/ eksistensi
Ø  Kelengkapan
Ø  Hak dan kewajiban
Ø  Penilaian atau alokasi
Ø  Penyajian dan pengungkapan
Keabsahan
Kelengkapan
Kepemilikan
Penilaian
Alokasi
Pisah batas
Akurasi mekanis
Penyajian dan Pengungkapan
Semua persediaan yang dicatat memang terdapat pada tanggal neraca.
Semua persediaan yang ada telah dihitung dan dicantumkan dalam ikhtisar persedian.
Perusahaan berhak atas semua persediaan yang tercantum.
Persediaan berhak digunakan sebagai jaminan
Jumlah persediaan sesuai dengan setiap rincian barang-barang yang secara fisik ada di tangan.
Harga yang digunakan untuk menilai persediaan sudah wajar.
Perhitungan harga dikalikan jumlah sudah benar dan rincian ditambahkan secara benar.
Persediaan telah diturunkan nilainya di mana ada pengurangan nilai bersih yang direalisasikan.
Pos-pos persediaan telah diklasifikasikan dengan pantas menurut bahan baku, barang dalam proses dan barang jadi.
Pisah batas pembelian pada akhir tahun memang tepat.
Pisah batas penjualan pada akhir tahun adalah tepat.
Total persediaan sesuai dengan buku besar.
Katagori  utama persediaan dan basis penilaian telah diungkapkan.
Persediaan yang digadaikan atau diserahkan telah diungkapkan.
Persediaan telah digolongkan dengan benar.

BUKTI PEMERIKSAAN
          Bukti Pemeriksaan : digunakan sebagai dasar dalam memberikan pendapat atas laporan keuangan yang diperiksanya.
          “Bukti pemeriksaan harus dikumpulkan untuk menilai penyajian laporan keuangan” sebagaimana dijelaskan dalam :
          Standar Auditing
Laporan Audit ( Paragraf Ruang Lingkup )
Pengumpulan bukti dilakukan dengan :
          Pengujian terhadap catatan akuntansi kliennya.
          Melakukan prosedur pemeriksaan.

Tujuan Akuntan melakukan pengujian terhadap catatan akuntansi kliennya adalah untuk mengumpulkan :
          Bukti bahwa transaksi telah dianalisis dan dicatat.
          Bukti mengenai ketelitian perhitungan dalam catatan
          Bukti bahwa pekerjaan peringkasan rekening-rekening dan pembuatan laporan telah dilakukan dengan teliti sesuai dengan prinsip akuntansi yang lazim (SAK).
Tujuan akuntan melakukan prosedur pemeriksaan adalah untuk mengumpulkan :
          Bukti dengan pengamatan fisik guna membuktikan apakah aktiva benar-benar ada.
          Bukti bahwa semua utang yang menjadi kewajiban klien telah dicantumkan dalam laporan keuangan.
          Bukti dari Bank, pelanggan, dan sumber lain di luar perusahaan, yang menguatkan bukti yang dikumpulkan dari catatan akuntansi klien.
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI DAPAT DIPERCAYAINYA BAHAN BUKTI ADALAH :
          Sumber Bahan Bukti : Bukti yang tingkat kompetensinya tinggi adalah bukti yang berasal dari luar klien. Contoh : Konfirmasi Bank, Debitur, Kreditur dll.
          Struktur Pengendalian Intern. : Pengendalian Intern yang Kuat / baik menyebabkan dapat dipercayanya catatan akuntansi dan bukti lain dalam organisasi klien.
          Cara Untuk memperoleh Bahan Bukti  ; Bukti yang diperoleh dengan cara pemeriksaan tangan pertama adalah relatif lebih tinggi tingkat kompetensinya bila dibandingkan pemeriksaan tangan ke dua.
          Kualifikasi orang yang memberikan informasi terhadap Bukti :  Bukti yang diperoleh dari pihak spesialis ( Ahli Geologi, Ahli Elektro, Pengacara, dll). Misalnya apabila kliennya adalah perusahaan Pengolahan Minyak maka dalam penilaian persediaan lebih baik diperoleh dari Ahli Geologi.

TIPE / JENIS BUKTI PEMERIKSAAN
1              Struktur Pengawasan Intern/Pengendalian Intern (SPI);  SPI yang baik merupakan bukti yang kuat mengenai dapat dipercayainya informasi yang dicantumkan dalam laporan keuangan. Sedangkan SPI yang buruk/lemah menentukan jumlah bukti yang harus dikumpulkan sebagai sumber bukti.
2              Bukti Fisik ; bukti yang dapat diperoleh dengan melakukan inspeksi/perhtungan Aktiva berwujud. Misalnya : Stok opname persediaan , kas opname, stok opname surat berharga.
3.            Bukti Dokumenter ; terbuat dari kertas dengan informasi huruf, angka atau simbol lain.
                Bukti Dokumen terdiri dari 3 golongan :
                1. Bukti dokumenter yang dibuat oleh pihak luar perusahaan dan  dikirim langsung kepada kantor Akuntan . Misalnya : surat konfirmasi
                2. Bukti dokumenter yang dibuat oleh pihak luar yang bebas yang disimpan dalam arsip klien. Misalnya : Rekening koran Bank,   Faktur dari penjual (transaksi pembelian), sertifikat saham, obligasi, sertifikat wesel tagih.
                3. Bukti Dokumenter yang dibuat dan disimpan oleh klien. Misalnya ; faktur penjualan, surat order pembelian, bukti pengiriman barang , surat representasi.
4              Catatan Akuntansi sebagai bukti . Misalnya ; Jurnal, Buku Besar, Buku Pembantu.
5              Perhitungan sebagai bukti (bersifat kuantitatif)
6              Bukti Lisan : dengan mengajukan pertanyaan lisan kepada para manajer, atau bagian yang berkepentingan, tentang kebijakan akuntansi, lokasi catatan dan dokumen, dll.
7              Perbandingan / Analitis : melakukan perbandingan terhadap perkiraan tahun ini dengan tahun sebelumnya. Misalnya : menghitung kerugian piutang tahun ini dan dibandingkan dengan piutang tahun lalu.
8              Bukti dari Spesialis ; adalah orang yang mempunyai keahlian khusus dalam bidang selain bidang akuntansi dalam pemeriksaan  (berada di tangan akuntan bukan dari klien). Misalnya ; menilai sumber daya alam yang terkandung dalam tahan maka akuntan harus berkonsultasi dengan ahli geologis

HUBUNGAN ANTARA BAHAN BUKTI DENGAN KUALITAS BAHAN BUKTI
Keputusan yang harus diambil Akuntan berkaitan dengan Bukti Pemeriksaan.
          Penentuan prosedur pemeriksaan yang akan digunakan
          Penentuan besarnya sampel untuk prosedur pemeriksaan tertentu
          Penentuan unsur tertentu yang harus dipilih dari populasi
          Penentuan waktu yang cocok untuk melaksanakan prosedur pemeriksaan tersebut.
1          Apa definisi dari pengendalian intern
Pengendalian intern adalah suatu proses yang dijalankan oleh dewan komisaris manajemen, dan personel lain entitas yang didesain untuk memberikan keyakinan memadai tentang pencapaian tiga golongan tujuan
(a)    keandalan pelaporan keuangan
(b)   efektivitas dan efisiensi operasi, dan
(c)    Kepatuhan terhadap hukum dan peraturan yang berlaku.
 2. Apa tujuan dari pengendalian intern jelaskan masing2nya ( 3 tujuan)
a). Tujuan Pelaporan Keuangan yaitu membuat laporan keuangan bagi pihak luar yang disajikan secara wajar sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia atau basis akuntansi komprehensif selain prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia.
b). Tujuan Operasi yaitu berkaitan dengan data yang dievaluasi dan digunakan auditor dalam prosedur audit. Contoh : Data non-keuangan yang digunakan oleh auditor dalam prosedur analitik, seperti statistik, atau yang berkaitan dengan pendeteksian ketidakpatuhan dengan hukum dan peraturan yang kemungkinan mempunyai dampak material terhadap laporan keuangan., seperti pengendalian atas kepatuhan terhadap undang-undang dan peraturan perpajakan yang digunakan untuk menentukan utang pajak penghasilan
c). Tujuan Kepatuhan yaitu pengendalian yang berkaitan dengan berkaitan dengan kepatuhan terhadap peraturan kesehatan dan keselamatan atau yang berkaitan dengan efektivitas dan efisiensi proses pengambilan keputusan manajemen tertentu (seperti penentuan harga yang semestinya dibebankan untuk produk atau apakah perusahaan melakukan pengeluaran untuk riser dan pengemban tertentu atau aktivitas advertensi)
3. Apa saja komponen komponen dari pengendalian intern ( 5 komponen) dan jelaskan secara singkat dari masing-asing komponen.
 1). Lingkungan pengendalian, menetapkan corak suatu organisasi dan mempengaruhi kesadaran pengendalian orang-orangnya. Misalnya sbb :
- Integritas dan nilai etika.
- Komitmen terhadap kompetensi.
- Partisipasi dewan komisaris atau komite audit.
- Filosofi dan gaya operasi manajemen.
- Struktur organisasi.
- Pemberian wewenang dan tanggung jawab.
- Kebijakan dan praktik sumber daya manusia.
 2). Penaksiran resiko, identifikasi analisis manajemen terhadap risiko dalam penyusunan laporan keuangan yang wajar sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia. Mencakup peristiwa dan keadaan intern maupun ekstern yang dapat terjadi dan secara negatif mempengaruhi kemampuan entitas untuk mencatat, mengolah, meringkas dan melaporkan data keuangan konsisten dengan asersi manajemen dalam laporan keuangan. Misalnya sbb :
- Perubahan dalam lingkungan operasi.
- Personel baru.
- Sistem informasi yang baru atau yang diperbaiki.
- Teknologi baru.
- Lini produk, produk, atau aktivitas baru.
- Restrukturisasi korporasi.
- Operasi luar negeri.
- Standar akuntansi baru.
 3). Aktivitas pengendalian, kebijakan dan prosedur yang membantu memastikan bahwa arahan manajemen dilaksanakan. Aktivitas tersebut membantu memastikan bahwa tindakan yang diperlukan untuk menanggulangi risiko dalam pencapaian tujuan entitas. Biasanya berkaitan dengan hal sbb :
- Review terhadap kinerja.
- Pengolahan informasi.
- Pengendalian fisik.
- Pemisahan tugas
 4). Informasi dan komunikasi, Sistem informasi yang terdiri dari metode dan catatan yang dibangun untuk mencatat, mengolahan meringkas, dan melaporkan transaksi entitas (baik peristiwa maupun kondisi) dan untuk memelihara akuntabilitas bagi aktiva, utang, dan ekuitas yang bersangkutan. Diantaranya memahami hal sbb :
- Golongan transaksi dalam operasi entitas yang signifikan bagi laporan keuangan.
- Bagaimana transaksi tersebut dimulai.
- Catatan akuntansi, informasi pendukung, dan akun tertentu dalam laporan ke yang tercakup dalam pengolahan dan pelaporan transaksi.
- Pengolahan akuntansi yang dicakup sejak saat transaksi dimulai sampai dengan dimasukkan ke dalam laporan keuangan, termasuk alat elektronik (seperti komputer dan electronic data interchange) yang digunakan untuk mengirim, memproses, memelihara, dan mengakses informasi.
 5). Pemantauan, untuk membangun dan memelihara pengendalian intern. Manajemen memantau pengendalian untuk mempertimbangkan apakah pengendalian tersebut beroperasi sebagaimana yang diharapkan dan bahwa pengendalian tersebut dimodifikasi sebagaimana mestinya jika perubahan kondisi menghendakinya.
4. Pada standard auditing yang manakah pertimbangan pegendalian intern harus dilakukan.
Pertimbangan atas pengendalian intern dalam Penaksiran Resiko Pengemdalian yang harus dilakukan.
5. Apa manfaatnya bagi auditor perlunya melakukan penilaian atas pemgendalian intern entitas yang diperiksa kaitkan dalam perencanaan pemeriksaan dan dalam pekerjaan lapangan
6. dalam kondisi yang bagaimana pengendalian intern telah dirancang sebaik dan sedemikian rupa tetapi korupsi dapat dilakukan oleh pejabat entitas dan terjadi fraud.
7. Apa yang dimakssud aktivitas pengendalian dan apa saja kegiatan yang masuk didalamnya jelaskan masing2nya.

Apa kaitan antara Asersi Management dengan Tujuan Audit.
Asersi Management digunakan untuk merumuskan tujuan Audit dan dalam merancang pengujian substantif. Untuk memperoleh bukti audit yang mendukung asersi dalam laporan keuangan, auditor independen merumuskan tujuan audit spesifik ditinjau dari sudut asersi tersebut (mempertimbangkan kondisi khusus entitas, termasuk sifat aktivitas ekonomi dan praktik akuntansi yang khas dalam industrinya, risiko salah saji material dalam laporan keuangan, termasuk tingkat risiko pengendalian taksiran, serta efisiensi dan efektivitas pengujian yang diharapkan dari pengujian tersebut.).
Sebutkan jenis-jenis Bukti Audit.
 a). Bukti audit informasi tertulis
Contoh : cek; catatan electronic fund transfers; faktur; surat kontrak; notulen rapat; konfirmasi dan representasi tertulis dari pihak yang mengetahui; informasi yang diperoleh auditor melalui permintaan keterangan, pengamatan, inspeksi dan pemeriksaan fisik.
 b). Bukti Audit informasi elektronik
Contoh : Jurnal, buku besar dan buku pembantu, dan buku pedoman akuntansi yang berkaitan, serta catatan seperti lembaran kerja (work sheet) dan spread sheet yang mendukung alokasi biaya, perhitungan, dan rekonsiliasi Dalam Program Akuntansi yang dipakai entitas.
6. Apa yang dimaksud dengan Kompetensi Bukti dan Bukti Yang Cukup
  • Kompetensi Bukti adalah Keabsahan dan sifat relevansi dari bukti yang ada, sehingga bukti tersebut dapat dipercaya dan diyakini oleh auditor sebagai dasar dari penarikan kesimpulan secara umum yang akan diambil, sehingga dapat diandalkan.
Bukti yang Cukup adalah Jumlah dan jenis bukti audit yang dibutuhkan oleh auditor untuk mendukung pendapatnya setelah mempelajari dengan meneliti keadaan dalam suatu entitas yang sedang diperiksanya. Sehingga Auditor dapat bekerja dalam batas-batas pertimbangan ekonomi; bermanfaat, dan dapat merumuskan dalam jangka waktu yang pantas dan dengan biaya yang masuk akal.

ETIKA PROFESIONAL
Apakah Etika Itu?
Etika secara umum didefinisikan sebagai perangkat prinsip moral atau nilai.
Daftar prinsip-prinsip berikut ini berhubungan dengan karakteristik dan nilai-nilai yang sebagian besar dihubungkan dengan prilaku etis
  • Kejujuran
  • Integritas
  • Mematuhi Janji
  • Loyalitas
  • Keadilan
  • Kepedulian kepada Orang Lain
  • Menghargai Orang Lain
  • Menjadi Warga Yang Bertanggungjawab
  • Mencapai Yang Terbaik
  • Ketanggunggutan
Kebutuhan akan Etika
Kebutuhan akan etika dalam masyarakat cukup penting sehingga banyak diantara nilai-nilai etika yang dimasukkan dalam undang-undang. Sejumlah besar nilai etika dalam masyarakat tidak dapat dimasukkan dalam undang-undang karena sifat nilai tertentu yang memerlukan pertimbangan.
Mengapa Orang Bertindak Tidak Beretika
Terdapat dua alasan utama mengapa orang bertindak tidak beretika ;
  1. Standar etika seseorang berbeda dari masyarakat umum
  2. Seseorang memilih bertindak semaunya
Etika Dalam Bisnis
Ada beberapa akibat potensial dari kasus-kasus dan terdapat banyak kritik terhadap bisnis yang ditampilkan filem, televisi, surat kabar dan media lainnya. Contoh kasus pertama tadi menunjukkan upaya untuk membuat perilaku bisnis yang tidak beretika seolah-olah normal saja. Kasus kedua menyimpulkan bahwa perilaku manajemen tersebut tidak beretika dan bisnisnya tetap sukses. Akhirnya, dan barangkali merupakan yang terpenting, adalah menyimpulkan bawa suatu tindakan haruslah benar-benar ekstrim untuk dinyatakan sebagai tidak beretika. Sebagai contoh, merupakan tanggungjawab social untuk memperlakukan pegawai, pelanggan dan pemasok secara jujur dan adil, tetapi dalam jangka panjang banyak kemungkinan tindakan yang akan diambil untuk keberhasilan bisnis.
Dilema Etika
Dilema etika adalah situasi yang dihadapi seseorang dimana keputusan mengenai perilaku yang pantas harus dibuat. Contoh sederhana dari dilema etika adalah pada saat kita menemukan cicin berlianyang memaksa kita untuk memutuskan mengembalikan pada pemiliknya atau untuk kita saja.
Auditor, akuntan dan kalangan bisnis lainnya menghadapi banyak dilema etika dalam karier bisnis mereka
Memecahkan Dilema Etika
Ada beberapa alternative pemecahan dilemma etika, tetapi harus berhati-hati untuk menghidari cara yang merupakan rasionalisasi perilakutidak beretika. Berikut ini adalah metode rasionalisasi yang biasanya digunakan bagi perilaku tidak beretika ;
-          Semua orang melakukannya
-          Jika itu legal, maka itu beretika
-          Kemungkinan ketahuan dan konsekuensinya
-          Fakta Relevan
-          Masalah etika
-          Konsekuensi dari setiap alternative
Kebutuhan Khusus Berperilaku Beretika Dalam Profesi
Alasan yang mendasari diperlukannya perilaku professional yang tinggi pada setiap profesi adalah kebutuan akan kepercayaan public terhadap kualitas jasa yang diberikan profesi, terlepas dari yang dilakukan secara peorangan. Bagi akuntan public, penting untuk meyakinkan klien dan pemakai laporan keuangan akan kualitas audit dan jasa lainnya. Jika pmakai jasa tidak mempunyai keyakinan pada ali medis, hakim atau akuntan public, kemampuan professional itu untuk memberikan jasa kepada klien dan asyarakat secara efekti berkurang.
Prinsip Prilaku Profesional
Prinsip-prinsip Etika
  1. Tanggungjawab
  2. Kepentingan masyarakat
  3. Integritas
  4. Objektivitas dan Independen
  5. Keseksamaan
  6. Lingkup dan Sifat Jasa
Independensi
Independensi dalam audit berarti cara pandang yang tidak memihak di dalam pelaksanaan pengujian, evaluasi hasil pemeriksaan, dan penyusunan laporan audit. Apabila auditor adalah seorang penasehat klien,seorang banker atau yang lainnya, dia tidak dapat dikatakan independen.
Hubungan Keuangan Dengan Klien
Di Amerika Serikat, tedapat aturan yang lebih rinci mengenai peilikan saham tersebut. Ada tiga perbedaan dalamperaturan 101 da Amerika Serikat sehubungan dengan independensi dan kepemilikan saham ;
-          Partner atau pemegang saham kontra non-partner atau non-pemegang saham
-          Kepentingan keuangan langsung dan tidak langsung
-          Material dan tidak material
-          Mantan praktisi
-          Prsedur peminjaman yang normal
-          Kepentingan keuangan pada hubungan keluarga
-          Hubungan investor atau investee bersama dengan klien
-          Komisaris, direksi, manajemen atau pegawai perusahaan
Upaya Memelihara Independensi
Banyak elemen-elemen dan persyaratan atau dorongan lain bagi akuntan untuk mempertahankan independensi dalam kenyataan dalam penampilan. Hal-hal itu yang yang terutama berlaku di Amerika Serikat, akan diikhtisarkan secara ringkas sebagai berikut.
-          Kewajiban Hukum
-          Peraturan 101, interperestasi dan ketentuannya
-          Standar auditing yang berlaku umum
-          Standar pengendalian mutu IAI (dan AICPA di Amerika Serikat)
-          Pendivisian Perusahaaan
-          Komite Audit
-          Kominikasi denagn auditor pendahuluan
-          Menjajangi pendapat mengenai penerapan prinsip akuntansi
-          Pengesahan auditor oleh pemegang saham
Standar-Standar Teknis
Di Amerika Serikat terdapat aturan-atuaran perilaku bagi anggota AICPA yang berkaitan dengan standar teknis.
Peraturan 201- Standar Umum
Peraturan 202- Ketaatan pada standar
Peraturan 203- Prinsip akuntansi
Peraturan 301- Informasi Rahasia Klien
Tindakan Yang Mendatangkan AIB
Tindakan yang mendatangkan AIB kurang jelas didefinisikan dalam aturan dan interprestasi. Ada tiga interprestasi, tetapi kecuali untuk yang pertama, semuanya masih tersamar. Ketiga interprestasi itu diikhtisarkan berikut ini ;
  1. Merupakan tindakan tercela bila menahan catatan klien setelah mereka meminta.
  2. Kantor akuntan public tidak boleh melakukan diskriminasi berdasarkan ras, warna kulit, agam, jenis kelamin, umur maupun asal kebangsaan.
Audit Objecktive
Auditing adalah proses pengumpulan dan pengevaluasian bahan bukti tentang informasi yang dapat diukur mengenai suatu entitas ekonomi yang dilakukan seorang yang kompeten dan independen untuk dapat menentukan dan melaporkan kesesuaian informasi dimaksud dengan kriteria-kriteria yang telah ditetapkan.
Audit Evidence ( Bukti Audit )
Bukti audit adalah segala informasi yang mendukung angka-angka atau informasi lain yang disajikan dalam laporan keuangan yang dapat digunakan oleh auditor sebagai dasar untuk menyatakan pendapatnya
Working Paper
Kertas kerja adalah catatan yang diselenggarakan oleh auditor mengenai prosedur audit yang ditempuhnya, pengujian yang dilakukannya, informasi yang diperolehnya, dan simpulan yang dibuatnya sehubungan dengan auditnya. Kertas kerja merupakan mata rantai yang menghubungkan catatan akuntansi klien dengan laporan audit yang dihasilkan oleh auditor. Kertas kerja biasanya harus berisi dokumentasi yang memperlihatkan:
(a) telah dilaksanakannya standar pekerjaan lapangan pertama,
(b) telah dilaksanakannya standar pekerjaan lapangan kedua,
(c) telah dilaksanakannya standar pekerjaan lapangan ketiga,
Empat tujuan terpenting pembuatan kertas kerja adalah untuk :
(1) mendukung pendapat auditor atas laporan keuangan auditan,
(2) menguatkan simpulan-simpulan auditor dan kompetensi auditnya,
(3) mengkoordinasi dan mengorganisasi semua tahap audit, dan
(4) memberikan pedoman dalam audit tahun berikutnya.
Faktor yg harus diperhatikan dlm pembuatan kertas kerja:
1. Lengkap
2. Teliti
3. Ringkas
4. Jelas
5. Rapi
TIPE KERTAS KERJA:
1.   Program Audit (Audit Program)
2.   Working Trial Balance
3.    Ringkasan Jurnal adjustment
4.   Skedul Utama (lead schedule atau top schedule)
5.    Skedul Pendukung (Supporting Schedule)
Susunan Kertas Kerja :
  1. Draft Laporan Audit (Audit Report)
  2. Laporan Keuangan Auditan
  3. Ringkasan Informasi bagi reviewer
  4. Program Audit
  5. Laporan Keuangan / Lembar Kerja yg dibuat klien
  6. Ringkasan Jurnal Adjustment
  7. Working Trial Balance
  8. Skedul Utama
  9. Skedul Pendukung
Jenis Pengarsipan Kertas Kerja:
  1. Arsip Kini (Current File)
  1. Arsip Permanen (Permanent File

STANDAR AUDIT
 A.    Pengertian Standar Audit
Standar audit adalah ukuran pelaksanaan tindakan yang merupakan pedoman umum bagi auditor dalam melaksanakan audit.
B.     Pembagian Standar Audit
Standar audit terdiri dari sepuluh standar yang dibagi kedalam 3 kelompok besar, yaitu :
  1. Standar umum
  1. Standar Pekerjaan Lapangan
  2. Standar Pelaporan
Standar pelaporan terdiri dari:
LAPORAN AUDIT
A.      Laporan Audit Standar Dengan Pendapat Wajar tanpa Pengeculian
Bentuk laporan audit yang paling umum adalah laporan audit standar dengan pendapatan wajar tanpa pengecualian. Lebih dari 90 persen laporan audit menggunakan bentuk ini. Laporan audit standar wajar tanpa pengecualian digunakan bila kondisi berikut terpenuhi.
Kondisi Untuk Laporan Wajar Tanpa Pengecualian :
  1. Semua Laporan keuangan – neraca, laporan laba rugi, saldo laba dan laporan arus kas – sudah tercakup didalam laporan keuangan.
  2. Ketiga strandar umum telah diikuti sepenuhnya dalam penugasan.
  3. Bahan bukti yang cukup telah dikumpulkan dan auditor tesebut telah melaksanakan penugasan dengan cara yang memungkinkan baginya untuk menyimpulkan bahwa ketiga standar pekerjaan lapangn telah dipenuhi.
  4. Laporan keuangan disajikan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum ini berarti bahwa pengungkapan yang memadai telah disertakan dalam catatan kaki dan bagian-bagian lain laporan keuangan.
Tidak terdapat situasi yang memerlukan penambahan paragraf penjelasan atau modifikasi kata-kata dalam laporan.
B.      Bagian-Bagian Dari Laporan Audit Bentuk Baku
Terlepas dari siapa auditornya,ketujuh bagian laporan audit berikut ini akan tetap sama.
  1. Judul laporan
  2. Alamat yang dituju laporan audit
  3. Pragraf pendahuluan
  4. Pragraf lingkup audit
  5. Pragraf pendapat
  6. Tanda tangan dan nama akuntan publik
  7. Tanggal laporan audit
C.      Keadaan Yang Menyebabkan Panyimpangan Pendapat Dari Wajar Tanpa Pengecualian
Dalam membahas laporan audit yang menyimpang dari laporan audit standar ada tiga topik yang berhubungan, yaitu : yang menyebabkan penyimpangn dari pendapat wajar tanpa pengecualian, jelas pendapat selain dari pendapat wajar tanpa pengecualian, dan materialitas.
Kondisi 1. Pembatasan lingkup audit.
Kondisi 2. Laporan keungan tidak disajikan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum sebagai
  1. Laporan Audit Selain Laporan Wajar Tanpa Pengecualian
Jika salah satu dari ketiga kondisi diatas, yang menuntut penyimpangan dari pendapat wajar tanpa pengecualian, ditemukan dalam audit dan dampaknya material, auditor harus memberikan pendapat selain wajar tanpa pengecualian dalam laporannya. Pendapat tidak wajar (adverse opinion), pernyataan tidak memberi pendapat (disclaimer of opinion), dan pendapat wajar dengan pengecualian (qualified opinion).
  1. Pendapat Tidak Wajar
  2. Pernyataan Tudak Memberikan Pendapat
  3. Pendapat Wajar Dengan Pengecualian

MATERIALITAS
Materialitas merupakan pertimbangan utana dalam menentukan laporan audit yang tepat untuk diterbitkan. FASB mendefinisikan materialitas yaitu besarnya nilai yang dihilangkan atau salah saji informasi akuntansi yang dilihat dari keadaan yang melingkupinya dapt mengakibatkan perubahan atas atau pengaruh terhadap pertimbangan orang yang meletakkan kepercayaan terhadap informasi tersebut, karena adanya penghilangan atau salah saji tersebut.
Oleh karena auditor bertanggung jawab menentukan apakah terdapat salah saji informasi akuntansi yang dilihat dari keadaan yang melingkupinya dapat mengakibatkan perubahan atas atau pengaruh terhadap pertimbangan orang yang meletakkan kepercayaan terhadap informasi tersebut, karena adnaya penghilangan atau salah saji tersebut. Jika klien menolak untuk mengoreksi salah saji tersebut, maka auditor harus menerbitkan opini wajar dengan pengecualian atau tidak wajar, bergantung pada seberapa signifikan salah saji tersebut. Untuk menentukan hal tersebut, auditor sangat bergantung pada pengetahuan yang mendalam atas penerapan materialitas.
LANGKAH-LANGKAH PENERAPAN MATERIALITAS
Langkah 1
MENETAPKAN PERTIMBANGAN MATERIALITAS AWAL
PSA 25 (SA 312) menharuskan auditor untuk memutuskan jumlah gabungan salah saji dalam laporan yang akan mereka anggap material di awal pengauditan bersamaan dengan ketika mereka mengembangkan strategi audit secara keseluruhan. Dinamakan pertimbangan materialitas awal, karena meskipun merupakan opini professional, penilaian tersebut dapat berubah selama kontrak kerja. Penilaian tersebut harus didokumentasikan dalam arsip audit.
Pertimbangan materialitas awal merupakan jumlah maksimal dimana auditor yakin terdapat salah saji dalam laporan keuangan namun tidak memengaruhi keputusan-keputusan para pengguna yang rasional. (secara konsep, ini adalah jumlah yang Rp 1 lebih kecil dari pada materialitas yang didefinisikan oleh FASB. Untuk kemudahan, kita mendefinisikan hal tersebut sebagai materialitas awal). Penilaian ini merupakan salah satu keputusan yang paling penting yang harus diambil oleh audior, dan sangat membutuhkan pemahaman dan pertimbangan professional yang tinggi. Auditor menetapkan pertimbangan materialitas awal untuk membantunya merencanakan pengumpulan bukti-bukti audit yang tepat.
Selama melakukan audit, auditor sering kali mengubah pertimbangan awal yang diistilahkan sebagai penilaian materialitas yang direvisi
FACTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI PENILAIAN
Beberapa factor yang memengaruhi auditor dalam melakukan pertimbangan materialitas awal dalam laporan keuangan. Hal-hal yang snagat penting untuk diperhatikan dalam konsep materialitas adalah sebagai berikut :
  1. Materialitas Merupakan Konsep Relative, Bukan Absolute
Sebuah salah saji dengan besaran tertentu dapat menjadi material bagi suatu perusahaan kecil , sebaiknya dengan jumlah salah saji yang sama dapat menjadi tidak material bagi perusahaan yang besar. Sehingga tidak mungkin untuk menetukan acuan nilai nominal untuk pertimbangan materialitas awal yang dapat diterapkan untuk semua klien audit.
  1. Dibutuhkan Dasar untuk Mengevaluasi Materialitas
Karena materialitas adalah konsep yang relative, sehingga sangat penting untuk memiliki dasar dalam menentukan apakah suatu jumlah tertentu material atau tidak.laba bersih sebelum pajak biasanya dijadikan sebagai dasar dalam menentukan materialitas bagi perusahaan yang berorientasi laba karena dianggap sebagai unsure yang sangat penting bagi para penggunanya. Beberapa perusahaan menggunakan dasar utama yang berbeda, karena laba bersih sering kali naik turun secara signifikan dari tahun ketahun, sehingga tidak dapat memberikas dasar secra stabil, atau ketika entitasnya adalah suatu perusahaan nirlaba. Sering kali dasar utama yang digunakan adalah penjualan bersih, laba kotor, dan total asset atau asset bersih. Setelah menetapkan dasar utama, auditorjuga harus memutuskan apakah salah saji tersebut secara signifikan berpengaruh pada kewajaran dasar lainnyaseperti asset lancar, total asset liabilitas lancar dan ekuitas pemilik. PSA 25 (SA 312) mengharuskan auditor untuk mendokumentasikan dasar yang digunakan dalam melakukan pertimbangan materialitas awal kedalam prinsip audit.
  1. Factor-Faktor Kualitatif Juga Memengaruhi Materialitas.
Langkah 2
MENGALOKASIKAN PERTIMBANGAN MATERIALITAS AWAL KESETIAP BAGIAN (SALAH SAJI YANG DAPAT DITERIMA)
Pengalokasian pertimbangan materialitas awal kesetiap bagian merupakan hal yang penting untuk dilakukan karena auditor mengumpulkan bukti audit per bagian dibandingkan dengan laporan keuangan secara keseluruhan. Ketika auditor mengalokasikan pertimbangan materialitas awal pada saldo-saldo akun, materialitas yang dialokasikan setiapsaldo akun yang dimaksud dalam PSA 25 (SA 312) sebagai salah saji yang dapat diterima.
Langkah 3
MEMPERKIRAKAN SALAH SAJI DAN MEMBANDINGKAN DENGAN PENILAIAN AWAL
Salah saji dalam suatu akun dapat berbentuk satu dari dua jenis ini, yaitu salah saji yang diketahui salah saji yang mungkin. Salah saji yang diketahui adalah salah saji dimana auditor dapat menetukan jumlah salah saji dalam akun tersebut. Salah saji yang mungkin terdapat dua jenis, pertama yaitu salah saji yang muncul karena adanya perbedaan antara penilaian manajemen dan penilaian auditor mengenai estimasi saldo akun. Yang kedua adalah proyeksi salah saji bedasarkan pengujian auditor atas sampel yang diambil dari populasi.
Langkah 4
MENGERSTIMASIKAN SALAH SAJI GABUNGAN
Langkah 5
MEMBANDINGKAN ESTIMASI SALAH SAJI GABUNGAN DENGAN MATERIALITAS DALAM PENILAIAN AWAL ATAU PENILAIAN YANG DIREVISI
RISIKO
Risiko (risk) penerimaan auditor bahwa terdapat beberapa tingkat ketidakpastian dalam menjalankan fungsi audit.
Model risiko audit dan perencanaan
Auditor menangani risiko dalam perencanaan bukti audit umumnya dengan menggunakan model risiko audit. Model risiko audit membantu auditor untuk menentukan seberapa banyak dan jenis bukti apakah yang harus dikumpulkan auditor untuk setiap siklusnya.
JENIS-JENIS RISIKO
  1. Risiko Deteksi yang Direncanakan (Planned Detection Risk)
Risiko deteksi yang direncanakan merupakan risiko dimana bukti audit untuk suatu bagian tidak mampu mendeteksi salah saji yang melebihi salah saji yang dapat diterima. Risiko ini hanya dapat berubah jika auditor mengubah salah satu risiko dalam model risiko audit tersebut.
  1. Risiko Bawaan (inherent risk)
Risiko bawaan mengukur penilaian auditor atas kemungkinan terdapatnya salah saji material (baik kecurangan maupun kesalahan) dalam sebuah bagian pengauditan sebelum mempertimbangkan efektifitas pengendalian internal klien.
  1. Risiko Pengendalian (Control Risk)
Risiko pengendalian mengukur penilaian auditor mengenai apakah salah saji melebihi jumlah yang dapat diterima di suatu bagian pengauditan akan dapat dicegah atau dideteksi dengan tepat waktu oleh pengendalian internal klien.
  1. Risiko Audit yang Dapat Diterima (Acceptable Audit Risk)
Risiko audit yang dapat diterima mengukur tingkat kesediaan auditor untuk menerima kemungkinan adanya salah saji dalam laporan keuangan setelah audit telah selesai dijalankan dan opini wajar tanpa pengecualian telah diterbitkan.
MENILAI RISIKO AUDIT YANG DAPAT DITERIMA
Dalam sebuah pengauditan, auditor harus memutuskan risiko audit yang dapat diterima, lebih utama dilakukan selama masa perencanaan. Pertama, auditor menetapkan risiko kontrak kerja dan kemudian menggunakan risiko kontrak kerja tersebut untuk memodifikasi risiko audit yang dapat diterima.
DAMPAK RISIKO KONTRAK KERJA TERHADAP RISIKO AUDIT YANG DAPAT DITERIMA
Risiko kontrak kerja (engagement risk) adalah risiko dimana auditor atau KAP akan mendapat masalah setelah audit diselesaikan, meskipun laporan audit sudah benar. Risiko kontrak kerja sangat terkait erat dengan risiko bisnis klien. Sangat penting untuk dicatat bahwa auditor tidak menyetujui mengenai apakah risiko kontrak kerja harus dipertimbangkan dalam perencanaan audit.
FACTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI RISIKO AUDIT
  1. Tingkat Ketergantungan Pengguna Eksternal Laporan Keuangan
Factor-faktor yang merupakan indicator yang baik untuk menilai tingkat ketergantungan para pengguna terhadap laporan keuangan :
a)      Ukuran klien. Umumnya, makin besar kegiatan operasi klien, makin luas penggunaan laporan keuangan. Ukuran klien, yang diukur dengan asset total atau pendapatan total, akan berpengaruh terhadap risiko audit yang dapat diterima.
b)      Distribusi kepemilikan. Laporan keuangan perusahaan public umumnya diandalkan oleh lebih banyak pengguna dibandingkan dengan perusahaan tertutup lainnya. Untuk perusahaan public ini, pihak yang berkepentingan lainnya adalah SEC, analisis keuangan, dan masyarakat umum.
c)       Sifat dan jumlah liabilitas. Ketika laporan memiliki sejumlah besar liabilitas,besar kemungkinan laporan tersebut akan digunakan secara lebih luas oleh para kreditor yang ada ataupun para calon kreditor dibandingkan dengan perusahaan yang memiliki lebih sedikit liabilitas.
  1. Kemungkinan Klien Akan Mengalami Kesulitan Keuangan Setelah Laporan Audit Diterbitkan
Sulit bagi auditor untuk memprediksi kegagalan keuangan sebelum hal itu terjadi, namun beberapa factor berikut dapat menjadi indicator yang baik atas meningkatnya kemungkinan kegagalan keuangan tersebut.
a)      Posisi likuiditas. Jika klien terus menerus kekurangan kas dan modal kerja, hal ini mengindikasikan adanya masalah dimasa mendatang dalam pembayaran utang-utangnya. Auditor harus menilai kemungkinan dan seberapa besar penurunan posisi likuiditas yang terjadi terus-menerus.
b)      Laba (rugi) ditahun-tahun sebelumnya. Sangat penting untuk mempertimbangkan perubahan laba relative terhadap saldo yang tersisa dalam saldo laba.
c)       Metode pertumbuhan pembiayaan. Auditor harus mengevaluasi apakah asset tetap klien dibiayai oleh pinjaman jangka pendek atau jangka penjan, karena sejumlah besar kas keluar yang dibutuhkan dalam waktu yang singkat akan memaksa perusahaan untuk mengalami kebangkrutan.
d)      Sifat kegiatan operasi klien. Beberapa jenis bisnis secara alamiah lebih berisiko dibandingkan dengan bisnis lainnya.
e)      Kompetensi manajemen. Manajemen yang kompeten secara terus menerus akan mewaspadai adanya potensi kesulitan keuangan dan memodifikasinya dengan berbagai metode operasi untuk meminimalkan pengaruh dari masalah jangka pendek. Auditor harus menilai kemampuan manajemen sebagai bagian dari evaluasi atas kemungkinan terjadinya kebangkrutan.
  1. Evaluasi Auditor Terhadap Integritas Manajemen
Perusahan-perusahaan dengan integritas rendah sering kali menjalankan aktivitas bisnis mereka dengan cara-cara yang dapat menimbulkan konflik dengan para pemegang sahamnya, pemerintah dan pelanggannya. Pada akhirnya, konflik-konflik tersebut sering kali tercermin  dalam persepsi pengguna terhadap kualitas audit dan dapat mengakibatkan adanya tuntutan hukum dan ketidaksetujuan lainnya.
  1. Membuat Keputusan Risiko Audit yang Dapat Diterima
Evaluasi yang biasanya dilakukan untuk risiko audit yang dapat diterima adalah tinggi, sedang atau rendah, dimana risiko audit yang dapat diterima rendah berarti bagi klien yang “berisiko” harus mendapatkan bukti yang lebih banyak, penugasan staf audit yang lebih bepengalaman, dan/atau penelaahan yanag lebih mendalam atas dokumentasi audit. Sejalan dengan perkembangan kemajuan kontrak kerja, auditor mendapatkan informasi tambahan mengenai klien, sehingga risiko audit yang dapat diterima dapat dimodifikasi.
MENILAI RISIKO BAWAAN
Masuknya risiko bawaan dalam model risiko audit merupakan slah satu konsep penting dalam pengauditan. Hal ini mengimplikasikan bahwa auditor harus mencoba untuk memprediksi bagian mana kemungkinan terdapat salah saji dalam laporan keuangan. Informasi ini memengaruhi jumlah bukti yang akan dikumpulkan auditor, penugasan staf dan penelaahan dokumentsi audit.
  1. Factor-Faktor yang Memengaruhi Risiko Bawaan
Auditor harus menilai factor-faktor yang menyusun risiko dan memodifikasi bukti audit yang akan dijadikan bahan pertimbangan. Auditor harus mempertimbangkan  beberapa factor utama berikut ketika menilai risiko pengendalian.
a)      Sifat bisnis klien
b)      Hasil pengauditan sebelumnya
c)       Kontrak kerja yang pertama atau kontrak kerja yang berulang
d)      Pihak-pihak yang memiliki hubungan istimewa
e)      Transaksi-transaksi yang tidak rutin
f)       Penilaian yang diperlukan untuk mencatat saldo-saldo akun dan transaksi-transaksi dengan benar
g)      Membuat populasi
h)      Factor-faktor yang terkait dengan kecurangan dalam laporan keuangan
i)        Factor-faktor yang terkait dengan penyalahgunaan asset
  1. Membuat Keputusan Risiko Bawaan
Auditor harus mengevaluasi informasi yang dapat memengaruhi risiko bawaan dan memutuskan factor risiko bawaan yang tepat untuk setiap siklus, akun dan untuk setiap tujuan audit. Beberapa factor seperti kontrak kerja pertama atau kontrak kerja yang berulang, hanya akan memengaruhi akun-akun atau tujuan audit tertentu saja.
  1. Mendapatkan Informasi Untuk Menilai Risiko Bawaan
Auditor mulai melakukan penilaian atas risiko bawaan selama fase perencanaan dan memperbarui penilaian tersebut disepanjang pengauditan.
HUBUNGAN ANTARA RISIKO DAN MATERIALITAS DENGAN BUKTI AUDIT
Konsep materialitas dan risiko dalam audit sangat berkaitan erta dan tidak dapat dipisahkan. Risiko merupakan ukuran atas ketidakpastian, sedangkan materialitas merupakan ukuran besaran atau tinggi rendanhnya. Bersama-sama keduanya mengukur jumlah ketidakpastian dalam suatu besaran tertentu.
MERIVISI RISIKO DAN BUKTI
Dalam merivisi risiko dan bukti audit, auditor sebaiknya mengikuti pendektan dua langkah berikut ini :
  1. Auditor harus merivisi penilaian awal dari risiko yang wajar. Adalah pelanggaran jika membiarkan penilaian awal tidak diubah jika auditor tahu itu adalah tidak wahar
  2. Auditor harus mempertimbangkan dampak dari rivisi terhadap bukti yang diharuskan, tanpa penggunaan model risiko audit. Penelitian dalam bidang audit telah menunjukkan, jika risiko yang dirivisi digunakan dalam model risiko audit untuk menentukan risiko deteksi yang direncanakan yang juga telah direvisi, ada bahaya dari tidak meningkatkannya bukti secara memadai. Sebagai gantinya, auditor harus berhati-hati mengevaluasi implikasi dari revisi risiko dan memodifikasi dengan tepat, diluar dari model risiko audit.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar